Jumat, 12 Juni 2015

BETAPA SENANGNYA, AKHIRNYA KAKIKUPUN MENGINJAK TANAH FAKULTASKU

Setelah mengikuti kegiatan BAKTI tingkat universitas selama 2 hari berturut-turut, 5-6 Agustus 2014, seluruh mahasiswa Universitas Andalas (UNAND) bersiap melanjutkan BAKTI di tingkat Fakultas. Salah satunya mahasiswa Fakultas Kedokteran UNAND. Bakti tingkat Fakultas ini diadakan selama tiga hari berturut-turut, mulai dari hari Kamis 7 Agustus sampai  sabtu 9 Agustus 2014 mendatang.

Pagi buta, tampak begitu ramai Mahasiswa Baru (MABA) di lingkungan Kampus Fakultas Kedokteran Limau Manis. Sangat mudah mengenali MABA, yaitu rambut tipis bagi yang laki-laki, dan yang perempuan berjilbab warna putih.

Sekitar pukul 7 pagi, rangkaian pembukaan bakti 2014 ini diikuti dengan khidmad oleh seluruh civitas akademika yang hadir. Acara pembukaan ini dibuka dengan tilawah  Al-qur’an oleh Pandu Prakoso M. kemudian dilanjutkan dengan laporan ketua pelaksana BAKTI FKUA, Riski Dwayana Putra. Selanjutnya kata sambutan yang disampaikan oleh Ketua Umum BEM KM FK UNAND, Handyka Milfiadi. Diaakhir sambutannya Handyka berpesan,”Pentinya 5 S (senyum salam, sapa, sopan, dan santun) dalam lingkungan Kampus FK. Selanjutnya kata sambutan dari wadek III, dr. M. hidayat, Sp.M. Kata sambutan terakhir disampaikan oleh Dekan FK UNAND , Dr. dr. Masrul, Sp,GK, MSc. Ditengah smbutannya beliau menuturkan bagaimana posisi FKUA di Pulau Sumatera dan Indonesia, adanya mahasiswa dari PAPUA dan Malaisiadi FK UNAND danmenjelaskaan bagaimana keseriusan kita dalam menghadapi perkuliahan di Kampus FK. Sebelum mengakhiri sambutannya, beliau membuka secara resmi BAKTI  FK UNAND tahun ini. Acara pembukaan diakhiri dengan MARS FKUA, dan do’a oleh Arjuna Fiqrillah.

Selesai upacara pembukaan, tepat pukul 08.00 WIB, kegiatan pertama MABA dimulai. Didalam ruangan, MABA diberika pengayaan materi kehidupan Kampus FK UNAND oleh para dosen. Setiap prodi di FK UNAND, diberikan pengenalan civitas akademika oleh Dekan FK, Dr. dr. Masrul, Sp, GK, MSc. Selanjutnya pengenalan ICT oleh dr. M. Fadhil Sp,JP. Setelah itu, pengenalan sarana dan prasarana oleh Wakil Dekan II, dr. Fachzi Fitri Sp, THT-KL, MARS. Materi Sebelum istirahat pertama disampaikan oleh dekan FKG, dr. Afriwardi, Sp,KO. Topic terakhir ini membahas masalah Profesi dan Peluang karir mahasiswa FK.

 Waktu istirahat tersebut dimanfaatkan untuk menunaikan ibadah shalat sunat dhuha di mesjid UNAND Nurul Ilmi. Sekitar pukul 11.00 WIB, kegiatan BAKTI MABA dilanjutka dengan materi SAPS dan Tatib Kampus oleh Wadek III, dr. M. Hidayat, Sp,M. Selanjutnya, MABA juga diberikan materi Pentingnya Organisasi Mahasiswa (PKM) selama perkuliahan oleh asisten Wadek III, dr. Erly, Sp,MK. Materi terakhir menjelang istrahat siang disampaikan oleh dr. Zelly, Sp,PK, yaitunya Prokema dan Beasiswa.

Pukul 13.30 WIB, MABA kembali masuk ke ruangan. Mereka kedatangan Rektor dan Wakil Rektor beserta jajarannya yang datang ke lokasi BAKTI FK UNAND. Dalam penyampaiannya kepada MABA, beliau menekankan kepada mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi, dan adanya rencana perubahan jalur bus Kampus UNAND, tujuannya agar lebih memudahkan mahasiswa FK kuliah di Kampus Limau Manis. Setelah penyampaian dari Rektor tadi, meteripun dilanjutkan dengan pengenalan UKT, yang disampaiakn oleh dr. Fachzi Fitri Sp, THT-KL, MARS. Beliau menyampaikan,” Dengan penyampaian ini diharapkan mahasiswa bisa meminimalisir kesalahpahaman tentang adanyaUang Kuliah Tunggal UKT. Setelah itu, dilanjutkan materi tentang peraturan akademik, oleh dr. Rina Gustia, Sp,KK. Setelah itu materi terakhir, Etika Kampus dan Penyelenggaraan serta Pengelolaan FK, disampaikan oleh dr. Arina Widya Murni, Sp,PD, FINASM


Seperti yang sudah dijadwalkan, pukul 16.00 MABA pulang. Untuk persiapan MABA esok harinya, mereka diberi tugas oleh panitia untuk dikerjakan. Semangat maba!!!

Rabu, 10 Juni 2015

JANGAN SAMPAI ORANG SEHAT JADI LANGKA

Perkembangan teknologi kedokteran hari ini begitu pesat dan semakin canggih. Walaupun demikian, hal ini diimbangi dengan semakin banyaknya penyakit-penyakit baru yang bermunculan dan semakin kompleks patofisiologinya. Meskipun teknologinya sudah maju, kecanggihannya tidak mampu menjawab hal yang mendasar, yaitu mutu kesehatan masyarakat dunia. Masyarakat dunia sekarang sangat rentan terhadap penyakit apapun. Jika kita bandingkan masa sekarang dengan empat puluh tahun yang lalu, penyakit-penyakit yang ada saat ini tidak banyak dijumpai dimasa itu. Sebut saja, Kanker, Diabetes Mellitus, Strok, dan masih banyak lagi. Dengan demikian, timbulah pertanyaan, mengapa dizaman sekarang yang teknologi kedokterannya kian canggih susah menemukan orng sehat secara jasmani dan rohani?, mari kita telusuri sebabnya.

Perubahan, perkembangan IPTEK (ilmu pengethuan dan teknologi), dan kemajuan zaman telah mengubah pola hidup manusia, khususnya di bidang kesehatan. Hal ini tidak dapat dipungkiri, derasnya arus globalisasi semakin menambah kesibukan manusia. Ini lah yang banyak membuat manusia kadang terlupa mengatur pola hidup yang baik dan berkualitas. Pola hidup yang muncul sekarang adalah pola hidup yang instan, terlebih itu dari makanan yang ia makan. Instan dari segi mendapatkannya, mengolahnya, cepat sajinya, dan besar nilai kalorinya. Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa makanan instan itu mengandung pengawet, pewarna, dan perasa yang tanpa kita sadari telah meracuni tubuh kita.

Coba kita merenung sejenak, bagaimana mungkin kita bisa meningkatkan kualitas kesehatan bila makanan yang kita konsumsi itu adalah Junk Food (makanan sampah). Pola makan ini sudah sejak kecil kita dapatkan. Makanan ini memeng enak, tapi tidak menambah nutrisi bagi tubuh  kita, malahan akan mengotori sistem tubuh saja.

Oleh sebab itu, tidak akan mungkin kita meningkatkan kualitas kesehatan, kalau kebutuhan tubuh kita sendiri tidak kita pahami?, begitu pula, bagaimana mungkin kualitas kesehatan kita akan semakin baik, jika para dokter, ilmuan, tokoh agama, dan semua masyarakat sakit, akibat pola hidup yang demikian.

Hal penting yang mesti kita sadari, bahwa kesehatan itu tidak bisa kita capai dengan hanya bergantung kepada dokter dan obat-obatan. Hidup sehat akan dapat kita peroleh dengan memberlakukan tubuh kita secara bijaksana dan memperhatikan norma-norma tubuh secara menyeluruh. Norma-norma tubuh itu meliputi, fisik, mental, emosional, dan spiritual.


Rasulullah saw. bersabada: “Perut (lambung) adalah sumber segala penyakit”. Oleh karenanya, mari kita mulai pola hidup baru dengan sebuah kesadaran, bahwa sesuap makanan dan seteguk minuman yang masuk kedalam tubuh kita akan menentukan masa depan kita selanjutnya. Maka tak perlu heran, jika ALLAH memperingatkan kita melalui Al-Qur’an untuk mengkonsumsi sesuatu sesuai ukuran yang baik dan benar. Baik dalam cara mendapatkannya, maupun kualitas materi makanan itu sendiri. Maka dari itu WASPADALAH…. 

Selasa, 09 Juni 2015

Nge cerpen ciat lu.....

Rahmah hanya mengeser kakinya ketika laki-laki berkulit putih dan berkecamata tebal itu meletakkan sebuah kardus besar disampingnya. Dalam seminggu ini sudah lima kali laki-laki itu ke tempatnya, di kolong jembatan yang jorok, bau, dan gelap.
Dilihat dari baju dan sepatu yang dipakainya, laki-laki itu lebih pantas berada dikantor-kantor megah atau hotel berbintang lima. Tapi entahlah, alasan apa yang membuatnya datang berkali-kali.
Mulanya Rahmah bisa mengerti dan memuji kebaikan laki-laki itu, saat dengan susah payah menopang tubuh ringkih Buk Imah, salah seorang warga penghuni kolong jembatan yang ia temukan terkulai di pinggir perempatan jalan tak jauh dari jembatan tempat dia tinggal.
Meskipun begitu, ketika laki-laki itu datang, dan datang lagi dengan segudang keramahan yang terlalu mahal, bahkan terlalu ajaib rasanya untuk penghuni kolong jembatan itu, Rahmah mulai bertanya-tanya. Mingkinkah di zaman seperti ini kebaikan bisa diberikan semudah itu? Tanpa mengharapkan balasan apa-apa? Tanpa pamrih sedikitpun? Rahmah mulai dilanda keraguan.
Laki-laki yang memperkenalkan dirinya itu bernama Paul, ia begitu pemurah hati. Makanan, minuman, obat-obatan, dan pakaian ia berikan secara gratis kepada orang-orang yang tinggal di kolong jembatan tempat Rahmah tinggal. Benar-benar gratis! Bukankah itu berlebihan? Lagi pula, balasan apa yang bisa diharapkan dari pemilik perut kosong penghuni kolong jembatan? Tidak ada.
Rahmah, meski dalam hitungan umur masih belum seberapa, tapi ia merasakan banyak sekali ketidakpedulian dalam hidupnya. Ia telah mengenal hitam putih karakter manusia. Makanya, terlalu sulit baginya untuk bisa mempercayai seseorang, apalagi itu orang asing. Baginya, hal itu sama sulitnya dengan menghitung jumlah cacing yang mungkin sedang kelaparan dalam perutnya.
Sekilas Rahmah melirik kardus yang dibuka laki-laki itu. Barangkali ia mungkin akan membagikan sesuatu yang lebih istimewa dari yang biasanya. Rahmah teringat wajah Wulan, temannya yang tertidur pulas setelah menyantap roti bertabur keju dan sekotak susu putih yang dibagikan Paul dua hari yang lalu. Itu hal trindah yang pernah menghias wajah Wulan yang Rahmah sempat saksikan dalam hidupnya. Belum pernah ia lihat wulan tidur sepulas itu.
Rahmah menolak sekardus makanan yang disodorkan Paul. Padahal rasa sakit karena lapar dipeutnya kian melelit. Sudah tiga hari ini tidak ada makanan yang memedati lambungnya. Ia keheranan, kemana orang-orang membuang sisa makannya. Bahkan, tempat sampah di samping warung nasi yang biasa didatanginya pun tak menyisakan sebutir nasi untuk ditelannya.
Paul yang berbadan tegap kekar itu mulai memaksa. Ia berusaha menarik lengan kecil kumal Rahmah agar mau menerima kardus makanan dari tangnnya. Tapi sekali lagi Rahmah menolak dan mendorong tubuhnya kesamping dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Paul akhirnya pergi sambil meneteng kardus basarnya kearah orang-orang lapar yang telah berjejer menantinya. Dalam sekejap, ia telah berhasil menyulap dirinya menjadi “malaikat” yang sudah lama ditunggu-tunggu. Ia seolah menenggelamkan dirinya diantara tulang-tulang berbalut kulit tipis yang bau, sampai-sampai tak tampak lagi batang hidungnya yang mancung itu.
Rahmah memalingkan pandangan matanya dari kerumunan tersebut.ia mencoba mengabaikan wajah Wulan yang menatapnya kebingungan. Saat kerumunan itu sepi, ‘Malaikat’ berkecamata tebal itu menghampirinya kembali.
“Kamu tidak lapar?, tanyanya membuka percakapan dengan hati-hati.
Rahmah tidakbergeming sedikitpun. Dan tetap tak bergeming sampai pertanyaan itu berulang tiga kali. Lalu Paul berlalu sia-sia dihadapannya.

*****
Laki-laki itu datang lagi keesokan harinya. Tepatnya di hari keempat Rahmah harus berperang melawan rasa lapar yang semakin menghebat. Seperti biassanya, kedatangannya mampu memberikan kecerahan bagi para pemilik wajah-wajah kolong jembatan yang suram. “Malaikat” itu segera membagi-bagikan bingkisan makannya sambil terus mengoceh tentang sesuatu yang ‘sungguh mati’ Rahmah tidak ingin mendengaranya.
Setelah selesai, lagi-lagi ia menghampiri Rahmah. Dengan tebungkuk-bungkuk, Rahmah berusaha mengibaskan tangannya menolak kehadiran paul. Seperti tidak peduli, laki-laki itu malah mendekat.
“Tidak apa-apa, kamu lapar?” ia berusaha tampil simpatik. Mendekatkan wajahnya pada wajah Rahmah yang kurus. Rahmah membalas tatapan laki-laki itu, pandangannya menembus kaca tebal yang menempel pada pangkal hidungnya. Sungguh tatapan tajam.
 Paulpun melanjutkan kalimatnya.
“Aku tahu kamu sendiriaan disini. Pasti sulit bagi anak seusiamu mencari makan sendiri tanpa bantuan Ayah dan Ibu,” ia masih mentap wajah Rahmah.
“Bukankah begitu ha?” Tanya lagi menegaskan.
Rahmah berusaha berpaling dari sosok di depannya. Ia hanya mendesis perlahan, terlalu perlahan meski untuk didengar telinganya sendiri. Dan itu sanggup mengusik ketenangan paul. Paul menatap kearah Rahmah dengan seribu kebingungan di benaknya.
“Kamu tidak lapar?” pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutnya. Ia membuang tatapannya sebentar.
“Lapar”, suara Rahmah begitu lemah.
“Kalau begitu ambillal! Makanlah!
Setelah itu, laki-laki itu berpaling dan melihat kearah gadis kecil berusia Sembilan atau sepuluh tahun itu. Ia bertanya lagi disela tarikan nafasnya.
“Kamu mau dua bagian?”
Rahmah menggelengkan kepalanya. Wajah cekungnya menyeringai menahan sakit di perutnya yang sudah tak tertahankan. Raut muka laki-laki itu menyiratkan ketidakmengertian. Bagaimana gadis kecil sebatang kara seperti Rahmah mampu menolak pemberiannya, sedangkan laki-laki dewasa yang lebih kuat darinya saja selalu tergopoh menyambut kedatangannya.
Tanpa berkata-kata lagi, ia letakkan satu kardus makananberisi lebih besar dari sebelumnya diatas pangkuan Rahmah. Sebenarnya Rahmah ingin menolak, tetapi entahlah, ada kekuatan lain dalam dirinya yang mengubur keinginan itu. Namun, setelah Paul pergi meninggalkannya, ia tidak juga menyentuh makanan itu. Sampai senja berlalu dan kumandang adzan maghrib melelapkannya.

*****
Ekor anak kucing penuh keropeng dan borok mendekap di ujung kaki Rahmah bergerak-gerak. Sambil menahan rasa nyeri, mata Rahmah terbuka perlahan. Langit masih gelap. Kardus makanan itu masih diatas pangkuannya. Ia tebarkan pandangan sekeliling, tampak sunyi. Hanya sesekali terdengar dengkuran Buk Mar yang tidur tak jauh darinya. Ia tidak tahu dimana Wulan. Lagi pula, Wulan lebih suka menunggu kedatangan Paul di ujung lorong sana ketimbang bercengkrama dengannya.
Ia menggigit bibirnya mengatasi rasa perih. Tangannya agak gemetaran terjulur membelai anak kucing penuh keropeng dan borok yang tampaknya masih setia terjaga dengannya. Ingin sekali Rahmah bertnya pada makhluk kecil itu,”apakah kamu lapar atau kedinginan? apakah kamu sebatang kara dan rindu pada orang tua? Apakah kamu rindu pada harapan yang tak pernah sampai pada kita?”.
Kalaupun ada, pastilah harapan itu sederhana sekali. Yaitu makan dan bertahan hidup, tak lebih dari itu, hanya itu.
Rahmah tersenyum simpul, anak kucing itu terlalau bodoh menjawab pertanyaannya. Lalu lintas diatas jembatan mulai ramai saat saat adzan berkumandang. Tanpa ia sadari alasannya, hati Rahmah selalu bergetar jika mendengarkan adzan. Ia menangis tersedu-sedu. Anak kucing itu menjilat-jiatkan lidahnya pada kaki kecil Rahmah diatas secarik kain yang digunakannya sebagai alas lantai.
Rahmah membayangkan masjid megah indah yang tengah mengumandangkan adzan tersebut. Di berandanya, sekali waktu ia pernah duduk di sana dan melihat orang singgah untuk shalat. Walau tak satupun dari mereka yang melemparkan recehan rupiah, namun Rahmah merasa nyaman di tempat itu. Ia merasa diterima. Baju dekil nan lusuh yang ia pakai tidak membuat penjaga mesjid harus mengusirnya, tidak seperti di gedung-gedung mewah dan restoran megah yang pernah dikunjunginnya. Satpam-satpam itu selalu menghardiknya.
Saat melihat orang yang ruku’ dan sujud, Rahmah menggantungkan harapannya agar suatu saat nanti ia bisa melakukannya. Menyerahkan diri pada Dzat yang sering kali ia bayangkan bisa bertemu dan berbincang dengan-Nya, mengadukan kesedihannya. Suatu nanti siapa tahu…
Gerakan anak kucing penuh keropeng dan borok itu menghempaskan Rahmah dari lamunannya. Melihat ketidakberdayaan kucing itu, Rahmah seolah melihat dirinya sendiri tanpa harus becermin. Seperti kucing itu, siapa yang peduli pada harapan-harapannya? Pada keingannya yang kadang menggebu menggugah hari-harinya? Rahmah hanya ingin mengenal Tuhannya, tidak lebih. Masalahnya, tidak seorangpun mau mengikhlaskan diri melancong ke kolong jembatan dan membantunya mewujudkan harapan itu. Kecuali Paul, yang entah mengapa Rahmah tak suka pada setiap perkataannya yang seperti orang berkhutbah.
Rahmah meraba perutnya yang mungkin sudah sekering gurun pasir. Matanya meredup dan tenaganya nyaris tak tersisa. Ia membiarkan anak kucing itu membuka kardus disampingnya dan melahap isinya. Hanya sebentar saja dia makan isinya, kemudian melanggeng pergi meninggalkan Rahmah yang kini terbujur kaku tak bernyawa mendekap perutnya.
Tak ada yang dibawa gadis kecil itu pergi, selain sebuah keyakinan yang tak pernah direnggut Paul dengan kardus-kardus makanannya. 

Sanak, Bapandai-pandai Jo Senior Dih...

Alah sabulan labiah kurang ambo jadi ketua dewan di kampus, yo taraso mode awak kanai lacuikan jilatang. Baa kok modetu kato ambo dek sanak, ibarat kato urang bijak eh, kapalo se nan lai samo hitam, tapi isi didalam ndk tatakok dek aka manusia do.

Kambali ka topik baliak, panjang na lo celoteh ndak sampai lo kaji ka intiny beko. Jadi kini ko ambo punyo beberapa senior nan manjadi anggota. Siapopun pasti punyo raso sagan jo senior ndak? baitu pulo jo ambo sanak. Kalau nan senior di ateh angkatan wak basuaro, otomatis awak diam mandangaan kan?. ha... kini ko agak taibo hati ambo ko sanak a.. Ba ko cei itu?

giko ny sanak, nan namonyo organisasi pasti ado nan namony rapek. Kalau nan di ambo, rapekny ado nan sakali saminggu, tapekny pado hari Salasa sore jam satangah limo sorean la,,,h. Alah duo minggu terakhir ko rapek ambo pindahan ka hari Kamis, jo hari Rabu, itu dek karano almanak merah salasa tu, jo anak SMA ujian sbmptn pas bana hari salasa kini. munkin kesal senior ko ka ambo ko sanak, sampai2, ambo ndk jaleh magiahan info (munkin batua jo eh, maklum lah, awak masih anak lado di Dewan ko). disampaian lah ambo ndk mengayomi anggota, sampilik jo pulsa, ndk namuah manelpon anggota kalau ndk dtng acara. Ndeh... yo ka baa lai sanak ndak? awah hiduik di rantau urang, pitih yo ba usahoan pas (kok dapek lai balabihan untuak kacio), bia ndak banyak lo gaek bapikia jo pangaluaran anak kuliah eh...

tu lah sanak, carito malam nanko, kok lai buliah, mhon do'a ny untuk bisa "Kuat" menjalani hidup dan "sukses" mahadoi senior jo anggota ambo di Kedewanan ko...
ha, mokasih bnyk alah mambaco jo do'anyo... semoga Allah manjadian kito urang nan pandai bersyukur.. Amiin...

PERAN MEDIA DALAM MENSOSIALISASIKAN BAHAYA NARKOBA

Fakta dan sejarah telah membuktikan, bahwa narkoba telah menjerumuskan jutaan manusia kedalam jurang kehancuran. Para pecandu tidak menyadari, bahwa mereka telah terlena dan terbuai dengan rayuan maut narkoba. Betapa tidak, jika kita selidik umur, generasi muda yang seharusnya menjadi aset dan tiangnya bangsa menjadi korban paling tinggi jumlahnya dibandingkan kasus penyalahgunaan narkoba oleh generasi tua. Lingkungan yang mendukung akan memudahkan peredaran narkoba ditengah masyarakat, sehingga membuat seorang individu mau mencoba narkoba sampai akhirnya kecanduan dan susah mengendalikan hidup.

Di negri ini, tidak banyak yang sadar dengan bahaya mautnya narkoba. Edukasi, sosialisasi, dan penyebaran informasi sangat menentukan lahirnya suatu proteksi diri masyarakat terhadap dampak buruk narkoba bagi masa depan diri mereka. Arus deras globalisasi dan informasi yang tidak dapat dibendung menjadi sumber inspirasi para produsen obat haram untuk mendagangkan produk haram mereka.  Salah satunya adalah media massa, baik yang elektronik maupun tulis terkadang sering keceplosan dalam memberitakan kasus-kasus narkoba. Sebagai contoh, sebuah kasus penggerebekan aparat kepolisian terhadap tersangka narkoba disuatu rumah kos-kosan. Dari penggerebekan itu, ditemukan barang bukti ganja 20 kilo siap edar, dengan total harga ratusan juta rupiah. Ini yang membuat masyarakat awam keliru. Di Negara ini, begitu banyak pengangguran, orang yang berpenghasilan rendah, dan lainya yang hidupnya bergantung terhadap tetesan iba orang lain. Setelah mendengar berita itu, mulailah muncul pemikiran sesat mereka untuk dapat merubah hidup agar cepat kaya dengan menjadi Bandar narkoba. Mereka tidak memikirkan sedikitpun dampak yang akan mereka terima dari usaha haram itu. Kalau sudah begini, maka bukannya masyarakat takut berteman dengan narkoba, tetapi malahan semakin berani menyentuhnya.

Peran media sangatlah strategis terhadap penyebaran informasi, khususnya narkoba. Informasi yang bernilai edukasi terhadap kasus narkoba yang baik adalah, masyarakat tahu aspek-aspek pencegahan, dan hukuman yang mereka terima jika terikat narkoba. Misalnya, diberitakan seorang pelajar pecandu narkoba, yang memiliki keluarga dan teman yang juga sama-sama pecandu. Setiap hari mereka hidup dalam kecurigaan, saling berbohong satu sama lain, barang-barang dirumah mulai berangsur-angsur hilang, sampai-sampai oksigen orang tuannyapun direnggut demi sebuah narkoba. Akhirnya polisi menangkap pelajar itu untuk dijebloskan kedalam penjara karna telah melakukan tindak criminal terhadap keluarganya sendiri. Sungguh ironis bukan? Dengan demikian ada sebuah nilai edukasi dan human interest  dalam memberitakan kasus ini.


Informasi pencegahan yang bernilai edukasi lainya adalah, adanya suatu cirri khas seorang pelaku ataupun pemakai narkoba. Ini dapat dilihat dari sebuah bong yang sebelumnya tidak ada di rumah, sekarang ada diatas tempat tidurnya si anak. Ditemukannya sejumlah alat suntik dirumah, kertas-kertas Koran yang dilipat kecil-kecil, bungkus rokok yang memenuhi tong sampah, dan banyak lagi. Secara tidak langsung, masyarakat akan mulai berfikir, ternyata mudah lho untuk mengenalai cirri-ciri spesifik pengedar dan pecandu narkoba di rumahnya. Oleh karnanya, berita informasi narkoba yang dikeluarkan oleh media membutuhkan sedikit embel-embel khusus agar menarik perhatian, dan menciutkan mental  masyarakat untuk terlibat dalam kasus narkoba.