Fakta dan sejarah telah
membuktikan, bahwa narkoba telah menjerumuskan jutaan manusia kedalam jurang
kehancuran. Para pecandu tidak menyadari, bahwa mereka telah terlena dan
terbuai dengan rayuan maut narkoba. Betapa tidak, jika kita selidik umur,
generasi muda yang seharusnya menjadi aset dan tiangnya bangsa menjadi korban
paling tinggi jumlahnya dibandingkan kasus penyalahgunaan narkoba oleh generasi
tua. Lingkungan yang mendukung akan memudahkan peredaran narkoba ditengah
masyarakat, sehingga membuat seorang individu mau mencoba narkoba sampai
akhirnya kecanduan dan susah mengendalikan hidup.
Di negri ini, tidak
banyak yang sadar dengan bahaya mautnya narkoba. Edukasi, sosialisasi, dan
penyebaran informasi sangat menentukan lahirnya suatu proteksi diri masyarakat
terhadap dampak buruk narkoba bagi masa depan diri mereka. Arus deras
globalisasi dan informasi yang tidak dapat dibendung menjadi sumber inspirasi
para produsen obat haram untuk mendagangkan produk haram mereka. Salah satunya adalah media massa, baik yang
elektronik maupun tulis terkadang sering keceplosan dalam memberitakan
kasus-kasus narkoba. Sebagai contoh, sebuah
kasus penggerebekan aparat kepolisian terhadap tersangka narkoba disuatu rumah
kos-kosan. Dari penggerebekan itu, ditemukan barang bukti ganja 20 kilo siap
edar, dengan total harga ratusan juta
rupiah. Ini yang membuat masyarakat awam keliru. Di Negara ini,
begitu banyak pengangguran, orang yang berpenghasilan rendah, dan lainya yang
hidupnya bergantung terhadap tetesan iba orang lain. Setelah mendengar berita
itu, mulailah muncul pemikiran sesat mereka untuk dapat merubah hidup agar
cepat kaya dengan menjadi Bandar narkoba. Mereka tidak memikirkan sedikitpun
dampak yang akan mereka terima dari usaha haram itu. Kalau sudah begini, maka
bukannya masyarakat takut berteman dengan narkoba, tetapi malahan semakin
berani menyentuhnya.
Peran media sangatlah
strategis terhadap penyebaran informasi, khususnya narkoba. Informasi yang
bernilai edukasi terhadap kasus narkoba yang baik adalah, masyarakat tahu aspek-aspek
pencegahan, dan hukuman yang mereka terima jika terikat narkoba. Misalnya, diberitakan seorang pelajar pecandu narkoba,
yang memiliki keluarga dan teman yang juga sama-sama pecandu. Setiap hari
mereka hidup dalam kecurigaan, saling berbohong satu sama lain, barang-barang
dirumah mulai berangsur-angsur hilang, sampai-sampai oksigen orang tuannyapun
direnggut demi sebuah narkoba. Akhirnya polisi menangkap pelajar itu untuk dijebloskan
kedalam penjara karna telah melakukan tindak criminal terhadap keluarganya
sendiri. Sungguh ironis bukan? Dengan demikian ada sebuah nilai edukasi dan
human interest dalam memberitakan kasus ini.
Informasi pencegahan yang
bernilai edukasi lainya adalah, adanya suatu cirri khas seorang pelaku ataupun
pemakai narkoba. Ini dapat dilihat dari sebuah bong yang sebelumnya tidak ada
di rumah, sekarang ada diatas tempat tidurnya si anak. Ditemukannya sejumlah
alat suntik dirumah, kertas-kertas Koran yang dilipat kecil-kecil, bungkus
rokok yang memenuhi tong sampah, dan banyak lagi. Secara tidak langsung,
masyarakat akan mulai berfikir, ternyata mudah lho untuk mengenalai cirri-ciri
spesifik pengedar dan pecandu narkoba di rumahnya. Oleh karnanya, berita
informasi narkoba yang dikeluarkan oleh media membutuhkan sedikit embel-embel
khusus agar menarik perhatian, dan menciutkan mental masyarakat untuk terlibat dalam kasus narkoba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar