Selasa, 09 Juni 2015

PERAN MEDIA DALAM MENSOSIALISASIKAN BAHAYA NARKOBA

Fakta dan sejarah telah membuktikan, bahwa narkoba telah menjerumuskan jutaan manusia kedalam jurang kehancuran. Para pecandu tidak menyadari, bahwa mereka telah terlena dan terbuai dengan rayuan maut narkoba. Betapa tidak, jika kita selidik umur, generasi muda yang seharusnya menjadi aset dan tiangnya bangsa menjadi korban paling tinggi jumlahnya dibandingkan kasus penyalahgunaan narkoba oleh generasi tua. Lingkungan yang mendukung akan memudahkan peredaran narkoba ditengah masyarakat, sehingga membuat seorang individu mau mencoba narkoba sampai akhirnya kecanduan dan susah mengendalikan hidup.

Di negri ini, tidak banyak yang sadar dengan bahaya mautnya narkoba. Edukasi, sosialisasi, dan penyebaran informasi sangat menentukan lahirnya suatu proteksi diri masyarakat terhadap dampak buruk narkoba bagi masa depan diri mereka. Arus deras globalisasi dan informasi yang tidak dapat dibendung menjadi sumber inspirasi para produsen obat haram untuk mendagangkan produk haram mereka.  Salah satunya adalah media massa, baik yang elektronik maupun tulis terkadang sering keceplosan dalam memberitakan kasus-kasus narkoba. Sebagai contoh, sebuah kasus penggerebekan aparat kepolisian terhadap tersangka narkoba disuatu rumah kos-kosan. Dari penggerebekan itu, ditemukan barang bukti ganja 20 kilo siap edar, dengan total harga ratusan juta rupiah. Ini yang membuat masyarakat awam keliru. Di Negara ini, begitu banyak pengangguran, orang yang berpenghasilan rendah, dan lainya yang hidupnya bergantung terhadap tetesan iba orang lain. Setelah mendengar berita itu, mulailah muncul pemikiran sesat mereka untuk dapat merubah hidup agar cepat kaya dengan menjadi Bandar narkoba. Mereka tidak memikirkan sedikitpun dampak yang akan mereka terima dari usaha haram itu. Kalau sudah begini, maka bukannya masyarakat takut berteman dengan narkoba, tetapi malahan semakin berani menyentuhnya.

Peran media sangatlah strategis terhadap penyebaran informasi, khususnya narkoba. Informasi yang bernilai edukasi terhadap kasus narkoba yang baik adalah, masyarakat tahu aspek-aspek pencegahan, dan hukuman yang mereka terima jika terikat narkoba. Misalnya, diberitakan seorang pelajar pecandu narkoba, yang memiliki keluarga dan teman yang juga sama-sama pecandu. Setiap hari mereka hidup dalam kecurigaan, saling berbohong satu sama lain, barang-barang dirumah mulai berangsur-angsur hilang, sampai-sampai oksigen orang tuannyapun direnggut demi sebuah narkoba. Akhirnya polisi menangkap pelajar itu untuk dijebloskan kedalam penjara karna telah melakukan tindak criminal terhadap keluarganya sendiri. Sungguh ironis bukan? Dengan demikian ada sebuah nilai edukasi dan human interest  dalam memberitakan kasus ini.


Informasi pencegahan yang bernilai edukasi lainya adalah, adanya suatu cirri khas seorang pelaku ataupun pemakai narkoba. Ini dapat dilihat dari sebuah bong yang sebelumnya tidak ada di rumah, sekarang ada diatas tempat tidurnya si anak. Ditemukannya sejumlah alat suntik dirumah, kertas-kertas Koran yang dilipat kecil-kecil, bungkus rokok yang memenuhi tong sampah, dan banyak lagi. Secara tidak langsung, masyarakat akan mulai berfikir, ternyata mudah lho untuk mengenalai cirri-ciri spesifik pengedar dan pecandu narkoba di rumahnya. Oleh karnanya, berita informasi narkoba yang dikeluarkan oleh media membutuhkan sedikit embel-embel khusus agar menarik perhatian, dan menciutkan mental  masyarakat untuk terlibat dalam kasus narkoba. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar