Selasa, 09 Juni 2015

Nge cerpen ciat lu.....

Rahmah hanya mengeser kakinya ketika laki-laki berkulit putih dan berkecamata tebal itu meletakkan sebuah kardus besar disampingnya. Dalam seminggu ini sudah lima kali laki-laki itu ke tempatnya, di kolong jembatan yang jorok, bau, dan gelap.
Dilihat dari baju dan sepatu yang dipakainya, laki-laki itu lebih pantas berada dikantor-kantor megah atau hotel berbintang lima. Tapi entahlah, alasan apa yang membuatnya datang berkali-kali.
Mulanya Rahmah bisa mengerti dan memuji kebaikan laki-laki itu, saat dengan susah payah menopang tubuh ringkih Buk Imah, salah seorang warga penghuni kolong jembatan yang ia temukan terkulai di pinggir perempatan jalan tak jauh dari jembatan tempat dia tinggal.
Meskipun begitu, ketika laki-laki itu datang, dan datang lagi dengan segudang keramahan yang terlalu mahal, bahkan terlalu ajaib rasanya untuk penghuni kolong jembatan itu, Rahmah mulai bertanya-tanya. Mingkinkah di zaman seperti ini kebaikan bisa diberikan semudah itu? Tanpa mengharapkan balasan apa-apa? Tanpa pamrih sedikitpun? Rahmah mulai dilanda keraguan.
Laki-laki yang memperkenalkan dirinya itu bernama Paul, ia begitu pemurah hati. Makanan, minuman, obat-obatan, dan pakaian ia berikan secara gratis kepada orang-orang yang tinggal di kolong jembatan tempat Rahmah tinggal. Benar-benar gratis! Bukankah itu berlebihan? Lagi pula, balasan apa yang bisa diharapkan dari pemilik perut kosong penghuni kolong jembatan? Tidak ada.
Rahmah, meski dalam hitungan umur masih belum seberapa, tapi ia merasakan banyak sekali ketidakpedulian dalam hidupnya. Ia telah mengenal hitam putih karakter manusia. Makanya, terlalu sulit baginya untuk bisa mempercayai seseorang, apalagi itu orang asing. Baginya, hal itu sama sulitnya dengan menghitung jumlah cacing yang mungkin sedang kelaparan dalam perutnya.
Sekilas Rahmah melirik kardus yang dibuka laki-laki itu. Barangkali ia mungkin akan membagikan sesuatu yang lebih istimewa dari yang biasanya. Rahmah teringat wajah Wulan, temannya yang tertidur pulas setelah menyantap roti bertabur keju dan sekotak susu putih yang dibagikan Paul dua hari yang lalu. Itu hal trindah yang pernah menghias wajah Wulan yang Rahmah sempat saksikan dalam hidupnya. Belum pernah ia lihat wulan tidur sepulas itu.
Rahmah menolak sekardus makanan yang disodorkan Paul. Padahal rasa sakit karena lapar dipeutnya kian melelit. Sudah tiga hari ini tidak ada makanan yang memedati lambungnya. Ia keheranan, kemana orang-orang membuang sisa makannya. Bahkan, tempat sampah di samping warung nasi yang biasa didatanginya pun tak menyisakan sebutir nasi untuk ditelannya.
Paul yang berbadan tegap kekar itu mulai memaksa. Ia berusaha menarik lengan kecil kumal Rahmah agar mau menerima kardus makanan dari tangnnya. Tapi sekali lagi Rahmah menolak dan mendorong tubuhnya kesamping dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Paul akhirnya pergi sambil meneteng kardus basarnya kearah orang-orang lapar yang telah berjejer menantinya. Dalam sekejap, ia telah berhasil menyulap dirinya menjadi “malaikat” yang sudah lama ditunggu-tunggu. Ia seolah menenggelamkan dirinya diantara tulang-tulang berbalut kulit tipis yang bau, sampai-sampai tak tampak lagi batang hidungnya yang mancung itu.
Rahmah memalingkan pandangan matanya dari kerumunan tersebut.ia mencoba mengabaikan wajah Wulan yang menatapnya kebingungan. Saat kerumunan itu sepi, ‘Malaikat’ berkecamata tebal itu menghampirinya kembali.
“Kamu tidak lapar?, tanyanya membuka percakapan dengan hati-hati.
Rahmah tidakbergeming sedikitpun. Dan tetap tak bergeming sampai pertanyaan itu berulang tiga kali. Lalu Paul berlalu sia-sia dihadapannya.

*****
Laki-laki itu datang lagi keesokan harinya. Tepatnya di hari keempat Rahmah harus berperang melawan rasa lapar yang semakin menghebat. Seperti biassanya, kedatangannya mampu memberikan kecerahan bagi para pemilik wajah-wajah kolong jembatan yang suram. “Malaikat” itu segera membagi-bagikan bingkisan makannya sambil terus mengoceh tentang sesuatu yang ‘sungguh mati’ Rahmah tidak ingin mendengaranya.
Setelah selesai, lagi-lagi ia menghampiri Rahmah. Dengan tebungkuk-bungkuk, Rahmah berusaha mengibaskan tangannya menolak kehadiran paul. Seperti tidak peduli, laki-laki itu malah mendekat.
“Tidak apa-apa, kamu lapar?” ia berusaha tampil simpatik. Mendekatkan wajahnya pada wajah Rahmah yang kurus. Rahmah membalas tatapan laki-laki itu, pandangannya menembus kaca tebal yang menempel pada pangkal hidungnya. Sungguh tatapan tajam.
 Paulpun melanjutkan kalimatnya.
“Aku tahu kamu sendiriaan disini. Pasti sulit bagi anak seusiamu mencari makan sendiri tanpa bantuan Ayah dan Ibu,” ia masih mentap wajah Rahmah.
“Bukankah begitu ha?” Tanya lagi menegaskan.
Rahmah berusaha berpaling dari sosok di depannya. Ia hanya mendesis perlahan, terlalu perlahan meski untuk didengar telinganya sendiri. Dan itu sanggup mengusik ketenangan paul. Paul menatap kearah Rahmah dengan seribu kebingungan di benaknya.
“Kamu tidak lapar?” pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutnya. Ia membuang tatapannya sebentar.
“Lapar”, suara Rahmah begitu lemah.
“Kalau begitu ambillal! Makanlah!
Setelah itu, laki-laki itu berpaling dan melihat kearah gadis kecil berusia Sembilan atau sepuluh tahun itu. Ia bertanya lagi disela tarikan nafasnya.
“Kamu mau dua bagian?”
Rahmah menggelengkan kepalanya. Wajah cekungnya menyeringai menahan sakit di perutnya yang sudah tak tertahankan. Raut muka laki-laki itu menyiratkan ketidakmengertian. Bagaimana gadis kecil sebatang kara seperti Rahmah mampu menolak pemberiannya, sedangkan laki-laki dewasa yang lebih kuat darinya saja selalu tergopoh menyambut kedatangannya.
Tanpa berkata-kata lagi, ia letakkan satu kardus makananberisi lebih besar dari sebelumnya diatas pangkuan Rahmah. Sebenarnya Rahmah ingin menolak, tetapi entahlah, ada kekuatan lain dalam dirinya yang mengubur keinginan itu. Namun, setelah Paul pergi meninggalkannya, ia tidak juga menyentuh makanan itu. Sampai senja berlalu dan kumandang adzan maghrib melelapkannya.

*****
Ekor anak kucing penuh keropeng dan borok mendekap di ujung kaki Rahmah bergerak-gerak. Sambil menahan rasa nyeri, mata Rahmah terbuka perlahan. Langit masih gelap. Kardus makanan itu masih diatas pangkuannya. Ia tebarkan pandangan sekeliling, tampak sunyi. Hanya sesekali terdengar dengkuran Buk Mar yang tidur tak jauh darinya. Ia tidak tahu dimana Wulan. Lagi pula, Wulan lebih suka menunggu kedatangan Paul di ujung lorong sana ketimbang bercengkrama dengannya.
Ia menggigit bibirnya mengatasi rasa perih. Tangannya agak gemetaran terjulur membelai anak kucing penuh keropeng dan borok yang tampaknya masih setia terjaga dengannya. Ingin sekali Rahmah bertnya pada makhluk kecil itu,”apakah kamu lapar atau kedinginan? apakah kamu sebatang kara dan rindu pada orang tua? Apakah kamu rindu pada harapan yang tak pernah sampai pada kita?”.
Kalaupun ada, pastilah harapan itu sederhana sekali. Yaitu makan dan bertahan hidup, tak lebih dari itu, hanya itu.
Rahmah tersenyum simpul, anak kucing itu terlalau bodoh menjawab pertanyaannya. Lalu lintas diatas jembatan mulai ramai saat saat adzan berkumandang. Tanpa ia sadari alasannya, hati Rahmah selalu bergetar jika mendengarkan adzan. Ia menangis tersedu-sedu. Anak kucing itu menjilat-jiatkan lidahnya pada kaki kecil Rahmah diatas secarik kain yang digunakannya sebagai alas lantai.
Rahmah membayangkan masjid megah indah yang tengah mengumandangkan adzan tersebut. Di berandanya, sekali waktu ia pernah duduk di sana dan melihat orang singgah untuk shalat. Walau tak satupun dari mereka yang melemparkan recehan rupiah, namun Rahmah merasa nyaman di tempat itu. Ia merasa diterima. Baju dekil nan lusuh yang ia pakai tidak membuat penjaga mesjid harus mengusirnya, tidak seperti di gedung-gedung mewah dan restoran megah yang pernah dikunjunginnya. Satpam-satpam itu selalu menghardiknya.
Saat melihat orang yang ruku’ dan sujud, Rahmah menggantungkan harapannya agar suatu saat nanti ia bisa melakukannya. Menyerahkan diri pada Dzat yang sering kali ia bayangkan bisa bertemu dan berbincang dengan-Nya, mengadukan kesedihannya. Suatu nanti siapa tahu…
Gerakan anak kucing penuh keropeng dan borok itu menghempaskan Rahmah dari lamunannya. Melihat ketidakberdayaan kucing itu, Rahmah seolah melihat dirinya sendiri tanpa harus becermin. Seperti kucing itu, siapa yang peduli pada harapan-harapannya? Pada keingannya yang kadang menggebu menggugah hari-harinya? Rahmah hanya ingin mengenal Tuhannya, tidak lebih. Masalahnya, tidak seorangpun mau mengikhlaskan diri melancong ke kolong jembatan dan membantunya mewujudkan harapan itu. Kecuali Paul, yang entah mengapa Rahmah tak suka pada setiap perkataannya yang seperti orang berkhutbah.
Rahmah meraba perutnya yang mungkin sudah sekering gurun pasir. Matanya meredup dan tenaganya nyaris tak tersisa. Ia membiarkan anak kucing itu membuka kardus disampingnya dan melahap isinya. Hanya sebentar saja dia makan isinya, kemudian melanggeng pergi meninggalkan Rahmah yang kini terbujur kaku tak bernyawa mendekap perutnya.
Tak ada yang dibawa gadis kecil itu pergi, selain sebuah keyakinan yang tak pernah direnggut Paul dengan kardus-kardus makanannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar