Rahmah
hanya mengeser kakinya ketika laki-laki berkulit putih dan berkecamata tebal
itu meletakkan sebuah kardus besar disampingnya. Dalam seminggu ini sudah lima
kali laki-laki itu ke tempatnya, di kolong jembatan yang jorok, bau, dan gelap.
Dilihat
dari baju dan sepatu yang dipakainya, laki-laki itu lebih pantas berada
dikantor-kantor megah atau hotel berbintang lima. Tapi entahlah, alasan apa
yang membuatnya datang berkali-kali.
Mulanya
Rahmah bisa mengerti dan memuji kebaikan laki-laki itu, saat dengan susah payah
menopang tubuh ringkih Buk Imah, salah seorang warga penghuni kolong jembatan
yang ia temukan terkulai di pinggir perempatan jalan tak jauh dari jembatan
tempat dia tinggal.
Meskipun
begitu, ketika laki-laki itu datang, dan datang lagi dengan segudang keramahan
yang terlalu mahal, bahkan terlalu ajaib rasanya untuk penghuni kolong jembatan
itu, Rahmah mulai bertanya-tanya. Mingkinkah di zaman seperti ini kebaikan bisa
diberikan semudah itu? Tanpa mengharapkan balasan apa-apa? Tanpa pamrih
sedikitpun? Rahmah mulai dilanda keraguan.
Laki-laki
yang memperkenalkan dirinya itu bernama Paul, ia begitu pemurah hati. Makanan,
minuman, obat-obatan, dan pakaian ia berikan secara gratis kepada orang-orang
yang tinggal di kolong jembatan tempat Rahmah tinggal. Benar-benar gratis!
Bukankah itu berlebihan? Lagi pula, balasan apa yang bisa diharapkan dari
pemilik perut kosong penghuni kolong jembatan? Tidak ada.
Rahmah,
meski dalam hitungan umur masih belum seberapa, tapi ia merasakan banyak sekali
ketidakpedulian dalam hidupnya. Ia telah mengenal hitam putih karakter manusia.
Makanya, terlalu sulit baginya untuk bisa mempercayai seseorang, apalagi itu
orang asing. Baginya, hal itu sama sulitnya dengan menghitung jumlah cacing
yang mungkin sedang kelaparan dalam perutnya.
Sekilas
Rahmah melirik kardus yang dibuka laki-laki itu. Barangkali ia mungkin akan
membagikan sesuatu yang lebih istimewa dari yang biasanya. Rahmah teringat
wajah Wulan, temannya yang tertidur pulas setelah menyantap roti bertabur keju
dan sekotak susu putih yang dibagikan Paul dua hari yang lalu. Itu hal trindah
yang pernah menghias wajah Wulan yang Rahmah sempat saksikan dalam hidupnya.
Belum pernah ia lihat wulan tidur sepulas itu.
Rahmah
menolak sekardus makanan yang disodorkan Paul. Padahal rasa sakit karena lapar
dipeutnya kian melelit. Sudah tiga hari ini tidak ada makanan yang memedati
lambungnya. Ia keheranan, kemana orang-orang membuang sisa makannya. Bahkan,
tempat sampah di samping warung nasi yang biasa didatanginya pun tak menyisakan
sebutir nasi untuk ditelannya.
Paul
yang berbadan tegap kekar itu mulai memaksa. Ia berusaha menarik lengan kecil
kumal Rahmah agar mau menerima kardus makanan dari tangnnya. Tapi sekali lagi Rahmah
menolak dan mendorong tubuhnya kesamping dengan sisa-sisa tenaga yang
dimilikinya.
Mendapat
perlakuan seperti itu, Paul akhirnya pergi sambil meneteng kardus basarnya
kearah orang-orang lapar yang telah berjejer menantinya. Dalam sekejap, ia
telah berhasil menyulap dirinya menjadi “malaikat” yang sudah lama
ditunggu-tunggu. Ia seolah menenggelamkan dirinya diantara tulang-tulang berbalut
kulit tipis yang bau, sampai-sampai tak tampak lagi batang hidungnya yang
mancung itu.
Rahmah
memalingkan pandangan matanya dari kerumunan tersebut.ia mencoba mengabaikan
wajah Wulan yang menatapnya kebingungan. Saat kerumunan itu sepi, ‘Malaikat’
berkecamata tebal itu menghampirinya kembali.
“Kamu
tidak lapar?, tanyanya membuka percakapan dengan hati-hati.
Rahmah
tidakbergeming sedikitpun. Dan tetap tak bergeming sampai pertanyaan itu berulang
tiga kali. Lalu Paul berlalu sia-sia dihadapannya.
*****
Laki-laki
itu datang lagi keesokan harinya. Tepatnya di hari keempat Rahmah harus
berperang melawan rasa lapar yang semakin menghebat. Seperti biassanya,
kedatangannya mampu memberikan kecerahan bagi para pemilik wajah-wajah kolong
jembatan yang suram. “Malaikat” itu segera membagi-bagikan bingkisan makannya
sambil terus mengoceh tentang sesuatu yang ‘sungguh mati’ Rahmah tidak ingin
mendengaranya.
Setelah
selesai, lagi-lagi ia menghampiri Rahmah. Dengan tebungkuk-bungkuk, Rahmah
berusaha mengibaskan tangannya menolak kehadiran paul. Seperti tidak peduli,
laki-laki itu malah mendekat.
“Tidak
apa-apa, kamu lapar?” ia berusaha tampil simpatik. Mendekatkan wajahnya pada
wajah Rahmah yang kurus. Rahmah membalas tatapan laki-laki itu, pandangannya
menembus kaca tebal yang menempel pada pangkal hidungnya. Sungguh tatapan
tajam.
Paulpun melanjutkan kalimatnya.
“Aku
tahu kamu sendiriaan disini. Pasti sulit bagi anak seusiamu mencari makan
sendiri tanpa bantuan Ayah dan Ibu,” ia masih mentap wajah Rahmah.
“Bukankah
begitu ha?” Tanya lagi menegaskan.
Rahmah
berusaha berpaling dari sosok di depannya. Ia hanya mendesis perlahan, terlalu
perlahan meski untuk didengar telinganya sendiri. Dan itu sanggup mengusik
ketenangan paul. Paul menatap kearah Rahmah dengan seribu kebingungan di
benaknya.
“Kamu
tidak lapar?” pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutnya. Ia
membuang tatapannya sebentar.
“Lapar”,
suara Rahmah begitu lemah.
“Kalau
begitu ambillal! Makanlah!
Setelah
itu, laki-laki itu berpaling dan melihat kearah gadis kecil berusia Sembilan atau
sepuluh tahun itu. Ia bertanya lagi disela tarikan nafasnya.
“Kamu
mau dua bagian?”
Rahmah
menggelengkan kepalanya. Wajah cekungnya menyeringai menahan sakit di perutnya
yang sudah tak tertahankan. Raut muka laki-laki itu menyiratkan
ketidakmengertian. Bagaimana gadis kecil sebatang kara seperti Rahmah mampu
menolak pemberiannya, sedangkan laki-laki dewasa yang lebih kuat darinya saja
selalu tergopoh menyambut kedatangannya.
Tanpa
berkata-kata lagi, ia letakkan satu kardus makananberisi lebih besar dari
sebelumnya diatas pangkuan Rahmah. Sebenarnya Rahmah ingin menolak, tetapi
entahlah, ada kekuatan lain dalam dirinya yang mengubur keinginan itu. Namun,
setelah Paul pergi meninggalkannya, ia tidak juga menyentuh makanan itu. Sampai
senja berlalu dan kumandang adzan maghrib melelapkannya.
*****
Ekor
anak kucing penuh keropeng dan borok mendekap di ujung kaki Rahmah
bergerak-gerak. Sambil menahan rasa nyeri, mata Rahmah terbuka perlahan. Langit
masih gelap. Kardus makanan itu masih diatas pangkuannya. Ia tebarkan pandangan
sekeliling, tampak sunyi. Hanya sesekali terdengar dengkuran Buk Mar yang tidur
tak jauh darinya. Ia tidak tahu dimana Wulan. Lagi pula, Wulan lebih suka
menunggu kedatangan Paul di ujung lorong sana ketimbang bercengkrama dengannya.
Ia
menggigit bibirnya mengatasi rasa perih. Tangannya agak gemetaran terjulur
membelai anak kucing penuh keropeng dan borok yang tampaknya masih setia
terjaga dengannya. Ingin sekali Rahmah bertnya pada makhluk kecil itu,”apakah
kamu lapar atau kedinginan? apakah kamu sebatang kara dan rindu pada orang tua?
Apakah kamu rindu pada harapan yang tak pernah sampai pada kita?”.
Kalaupun
ada, pastilah harapan itu sederhana sekali. Yaitu makan dan bertahan hidup, tak
lebih dari itu, hanya itu.
Rahmah
tersenyum simpul, anak kucing itu terlalau bodoh menjawab pertanyaannya. Lalu
lintas diatas jembatan mulai ramai saat saat adzan berkumandang. Tanpa ia
sadari alasannya, hati Rahmah selalu bergetar jika mendengarkan adzan. Ia
menangis tersedu-sedu. Anak kucing itu menjilat-jiatkan lidahnya pada kaki kecil
Rahmah diatas secarik kain yang digunakannya sebagai alas lantai.
Rahmah
membayangkan masjid megah indah yang tengah mengumandangkan adzan tersebut. Di
berandanya, sekali waktu ia pernah duduk di sana dan melihat orang singgah
untuk shalat. Walau tak satupun dari mereka yang melemparkan recehan rupiah,
namun Rahmah merasa nyaman di tempat itu. Ia merasa diterima. Baju dekil nan
lusuh yang ia pakai tidak membuat penjaga mesjid harus mengusirnya, tidak
seperti di gedung-gedung mewah dan restoran megah yang pernah dikunjunginnya.
Satpam-satpam itu selalu menghardiknya.
Saat
melihat orang yang ruku’ dan sujud, Rahmah menggantungkan harapannya agar suatu
saat nanti ia bisa melakukannya. Menyerahkan diri pada Dzat yang sering kali ia
bayangkan bisa bertemu dan berbincang dengan-Nya, mengadukan kesedihannya.
Suatu nanti siapa tahu…
Gerakan
anak kucing penuh keropeng dan borok itu menghempaskan Rahmah dari lamunannya.
Melihat ketidakberdayaan kucing itu, Rahmah seolah melihat dirinya sendiri
tanpa harus becermin. Seperti kucing itu, siapa yang peduli pada
harapan-harapannya? Pada keingannya yang kadang menggebu menggugah hari-harinya?
Rahmah hanya ingin mengenal Tuhannya, tidak lebih. Masalahnya, tidak seorangpun
mau mengikhlaskan diri melancong ke kolong jembatan dan membantunya mewujudkan
harapan itu. Kecuali Paul, yang entah mengapa Rahmah tak suka pada setiap
perkataannya yang seperti orang berkhutbah.
Rahmah
meraba perutnya yang mungkin sudah sekering gurun pasir. Matanya meredup dan
tenaganya nyaris tak tersisa. Ia membiarkan anak kucing itu membuka kardus
disampingnya dan melahap isinya. Hanya sebentar saja dia makan isinya, kemudian
melanggeng pergi meninggalkan Rahmah yang kini terbujur kaku tak bernyawa
mendekap perutnya.
Tak
ada yang dibawa gadis kecil itu pergi, selain sebuah keyakinan yang tak pernah
direnggut Paul dengan kardus-kardus makanannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar